Mitos atau Fakta: Benarkah Makan Micin Bikin Bodoh ?

  • Bagikan
micin
Micin atau Monosodium Glutamat (MSG) adalah penambah rasa yang ditambahkan ke berbagai makanan, sayuran kaleng, sup, hingga daging olahan/Foto : Istimewa

Amankah konsumsi MSG?

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengatakan MSG umumnya mereka akui aman. Meski demikian, mereka mewajibkan makanan yang mengandung tambahan MSG mencantumkannya di panel bahan sebagai monosodium glutamat.

Jika MSG kita temukan secara alami di beberapa bahan (protein nabati terhidrolisis, ragi terautolisis, ragi terhidrolisis, ekstrak ragi, ekstrak kedelai, dan isolat protein), maka produsen tidak perlu mencantumkan MSG pada labelnya. Konsumsi MSG juga tidak boleh berlebihan.

Mengapa orang berpikir MSG buruk untuk kesehatan?

Johanes menyebut belum ada bukti ilmiah apapun yang membenarkan pendapat bahwa micin bisa membuat seseorang menjadi bodoh. Dia mencontohkan asupan msg dalam makanan di Amerika jumlahnya bahkan kurang dari satu gram per orang. Sementara di Jepang hampir dua gram per orang per hari.

“Lebih banyak dua kali lipat di Amerika, orang Jepang juga senang makan soyu dan kecap, tapi apakah mereka lebih bodoh, tentu tidak, ini bukti mitosnya salah,” kata dia.

Mitos lain yang Johanes bantah adalah pemikiran bahwa MSG atau micin bisa menyebabkan kanker. Penelitian yang memperkuat mitos ini mereka lakukan terhadap tikus, padahal percobaan lain terhadap anjing justru terbukti salah.

“Tikus kan beda sistem kemihnya, jadi pada anjing dan kera percobaan itu tidak pernah kita temukan,” kata dia.

Oleh karena itu, sesuai anjuran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Johanes memastikan MSG tidak berbahaya dalam jumlah yang tak berlebihan. Bahan penambah rasa makanan ini bahkan masuk dalam kategori tambahan pangan yang aman.

“Jadi tidak bisa kita tentukan berapa banyak yang boleh kita pakai, seperti kita pakai bahan pangan lain, kalau kebanyakan kan tidak enak, secukupnya saja,” kata dia.

Mungkinkah MSG baik untuk kesehatan?

Studi di Neuropsychopharmacology menemukan, konsumsi kaldu yang kaya umami dapat meningkatkan perilaku makan yang sehat terutama pada wanita yang berisiko obesitas. Para peneliti mengevaluasi perubahan pada otak wanita setelah mengonsumsi kaldu ayam dengan atau tanpa Monosodium Glutamat.

Para peneliti menemukan, kaldu dengan tambahan Monosodium Glutamat menerangi area otak yang terhubung dengan kepuasan dan kontrol makan yang lebih baik. Terlebih lagi, wanita yang mengonsumsi kaldu membuat pilihan yang lebih baik saat makan yakni lebih menyukai makanan dengan sedikit lemak jenuh.

Tak hanya itu, Monosodium Glutamat juga kita yakini bisa menjadi alat utama membantu mengurangi asupan garam. Penggunaan umami memungkinkan untuk mengurangi garam, khusus untuk MSG. Artinya, kadar natrium bisa kita kurangi dengan tetap menjaga atau meningkatkan cita rasa suatu produk.

Pada dasarnya, Monosodium Glutamat memang selalu kita kaitkan dengan berbagai gejala kesehatan seperti sakit kepala, sesak, mati rasa, kesemutan atau terbakar di wajah, leher dan area lainnya, detak jantung yang cepat dan berdebar-debar, nyeri dada, hingga mual. Namun, melansir dari Mayo Clinic, para peneliti tidak menemukan bukti pasti tentang hubungan antara Monosodium Glutamat dan gejala-gejala ini.

Meski demikian, para peneliti mengakui bahwa sebagian kecil orang mungkin memiliki reaksi jangka pendek terhadap Monosodium Glutamat. Gejala biasanya ringan dan tidak memerlukan pengobatan. Satu-satunya cara untuk mencegah reaksi adalah dengan menghindari makanan yang mengandung MSG.(Fath)

Sumber : CNN Indonesia

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.